Sabtu, 05 November 2011

Ayam Kampung

Ayam kampung merupakan salah satu unggas lokal yang umumnya dipelihara petani di pedesaan sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan daging. Selain dapat diusahakan secara sambilan, mudah dipelihara dengan teknologi sederhana, dan sewaktu-waktu dapat dijual untuk keperluan mendesak (Rasyid, 2002). Ayam kampung sebagai salah satu spesies ayam di Indonesia berasal dari genus gallus,  salah satu diantaranya yaitu ayam hutan merah (Gallus gallus) yang terdapat di hutan Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi. Selain itu Gallus javanicus yang dikenal sebagai ayam hutan hijau terdapat di Pulau Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara Barat (Mansjoer, 2003).
Variasi individu ayam kampung meliputi warna bulu putih, kuning, merah, hitam, blirik, blorok, dan warna bulu lainnya. Ukuran tubuh, produktivitas telur, laju pertumbuhan dan penampilan fisik juga bervariasi (Sarwono, 2003). Ayam jantan memiliki warna kulit kuning pucat, warna bulu lebih indah, warna kaki hitam campur putih, dan bentuk tubuh lonjong. Sedangkan ayam betina berbentuk segi empat, pial berwarna merah dan kecil (Mansjoer, 2003). 
Pemeliharaan ayam kampung dibagi menjadi 4 fase, yaitu Fase starter (0-4 minggu), fase grower 1 (4-6 minggu), fase grower 2 (6-8 minggu), dan fase finisher (8-10 minggu) (Iswanto, 2002). Pemeliharaan periode awal, merupakan tahapan pemeliharaan yang memerlukan perhatian ekstra (Murtidjo, 1992). Pada tahapan ini dibandingkan dengan ayam ras, ayam kampung mempunyai kelemahan, yaitu pertumbuhannya yang relatif lambat sehingga waktu pemeliharaanya lebih lama (Mansjoer, 2003).
Sistem pemeliharaan pada unggas digolongkan 1) sistem ekstensif, ayam dipelihara pada lahan umbaran yang luas, 2) sistem semi intensif, ayam dipelihara pada lahan umbaran yang terbatas, kandang digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan ternak, 3) sistem intensif, ayam dipelihara secara terbatas dalam kandang, semua pakan disediakan oleh pengelola, efisien penggunaan pakan, kontrol dan evaluasi mudah dilakukan (Suprijatna et al., 2005).
Brooder atau induk buatan berfungsi sebagai pengganti induk anak ayam. Prinsipnya, induk buatan memberikan kehangatan dan kenyamanan yang optimal sehingga anak ayam merasa dilindungi oleh induk. Alat yang digunakan bisa menggunakan lingkaran pelindung yang terbuat dari seng; alat pemanas bisa dengan gasolec, semawar, kompor batubara atau drum bekas; sumber panas dapat menggunakan gas, batu bara, arang, kayu bakar, atau bohlam lampu pijar; induk buatan dapat juga menggunakan boks atau kotak rangka kayu dengan dinding dari seng bila populasi ayam yang diperlihara di bawah 500 ekor (Nuroso, 2010). Awal pemeliharaan (umur 1-7 hari) sebaiknya temperatur kandang brooder sekitar 31-340 C agar tetap hangat. Sementara itu, hari berikutnya temperatur dapat diturunkan menjadi 300 C. Selama pemeliharaan di kandang brooder, peternak harus memperhatikan pertumbuhan DOC dan menyesuaikan luas brooder sejalan dengan pertambahan umur (Yaman, 2010).

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Saya belajar tentang ayam. Infonya membantu sekali makasi

    BalasHapus